Setahun Tragedi Berdarah Randi-Yusuf, GPMI Minta Organisasi Mahasiswa se-Sultra Gelar Aksi

Aksi Mahasiswa yang tergabung di GPMI saat turun ke jalan untuk mengenang tragedi berdarah meninggalnya Randi-Yusuf Setahun lalu. (FOTO : ODEK)

BeritaRakyat.id, Kendari-  Kurang dari lima hari, genap setahun sudah misteri kematian Randi danYusuf bergulir, namun sampai hari ini kasus yang dikenal dengan tragedi September berdarah (Sedarah) itu belum menui kejelasan.

Menyikapi hal ini pun, sejumlah organisasi kemahasiswaan mulai mempersiapkan aksi unjuk rasa yang akan digelar  26 September mendatang. Aksi dan konsolidasi lintas organisasi ini rencananya  dilakukan dalam rangka evaluasi kinerja Kepolisian Daerah (Polda)  Sulawesi Tenggara (Sultra) terkait penanganan perkara yang menewaskan dua  mahasiswa UHO tersebut, pada aksi 26 September 2019 lalu.

Salah satu elemen mahasiswa yang akan turun langsung ikut dalam aksi tersebut yakni Gerakan Persatuan Mahasiswa Indonesia (GPMI). Armin Rano selaku koordinator GPMI akan bertanggung jawab penuh atas aksi tersebut.

“Kurang tiga hari lagi, genap setahun kasus ini belum menuai titik terang. Dugaan bahwa polda tidak sepenuh hati mengungkap pelaku saya rasa sangat kuat. Saya mengajak segenap elemen organisasi untuk bersatu padu dalam barisan demosntrasi tanggal 26 september mendatang,” terangnya, Rabu (23/09/2020).

Lebih lanjut ia menyinggung soal tuntutan demonstrasi yg dilakukan minggu lalu terkait isu Sara, di mana menurutnya polda mempertontonkan bahwa aksi demonstrasi harus lebih ekstem agar tuntutan bisa ditindaklanjuti, sehingga kata dia, gerakan yang akan dilakukan tersebut harus lebih ekstrem.

“Kemarin ada aksi besar-besaran yg masif, seminggu pelakunya suda bisa diungkap. Mungkin aksi ke depan ini harus lebih ekstrem dari biasanya biar pelaku bisa diungkap dengan cepat. Selebihnya saya masi tetap percaya, bahwa beberapa organisasi kemahasiswaan akan turun ambil bagian di momen ini. Yang pasti, GPMI akan terus solid menuntut kejelasan perkara kematian rekan aktivis,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, hasil koordinasi dari beberapa elemen, mereka bersepakat untuk tidak menggunakan pemberitahuan aksi. Hanya saja ia  menyebutkan rute utama aksi tersebut di  Polda Sultra.

“Saya hubungi beberapa elemen yg juga siap ambil bagian dalam moment ini, kami bersepakat untuk mengabaikan pemberitahuan aksi. Artinya, seluruh masa aksi yg tergabung nantinya sekaligus sebagai penanggung jawabnya,” ungkapnya.

ODEK/NURSADAH

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *