Pembatasan Jam Malam Dianggap  Bikin Gaduh, Pemkot Kendari Diminta Kaji Ulang

Anggota DPRD Kota Kendari LM Rajab Jinik. (FOTO: IST)

BeritaRakyat.id, Kendari – Pemberlakuan jam malam yang diterapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari untuk menekan penyebaran viros Covid-19, dinilai membuat gaduh. Banyak pengusaha maupun pekerja malam yang akan merugi karena pemasukan akan minim.

Anggota DPRD Kota Kendari, LM Rajab Jinik menilai, adanya Peraturan Wali Kota (Perwali) Kendari nomor 27 tahun 2020 yang membatasi aktivitas masyarakat atau pelaku usaha pada malam hari tidak akan efektif dalam memutus penyebaran virus corona. Makanya perlu dikaji ulang.

“Kalau Perwali itu kita sepakat, tapi yang kita tidak sepakati itu pembatasan aktivitas masyarakat di malam hari perlu dikaji lagi lebih mendalam oleh pemerintah. Karena, ini saya menilai merugikan para pelaku UMKM memiliki sumber penghasilan atau yang mengantungkan hidupnya di malam hari,” kata Rajab Jinik, Senin (14/09/2020).

Ketua Komisi III DPRD Kota Kendari menjelaskan, saat ini masyarakat salah satunya para pelaku UMKM  gaduh dan resah dengan adanya pembatasan aktivitas pada malam hari. Banyak tempat-tempat usaha terpaksa tertutup.

“Sekarang masyarakat bukan lagi gaduh atau resah dengan adanya Covid-19, tapi gaduh dengan aktivitasnya mereka dibatasi, padahal THM dan beberapa tempat lainnya pendapatan mereka di atas jam 10 malam,” jelasnya.

Anggota Fraksi Golkar ini mengatakan,  pembatasan jam malam ini harus dibuktikan bahwa ada cluster baru corona yang muncul dari THM dan beberapa tempat lain misalnya. Sementara meningkatnya kasus covid ini tidak ditahui cluster dari mana.

“Saya pikir proses penyebaran Covid tidak ada cluster THM, hotel terutama UMKM. Pemkot jangan mengkambinghitamkan hotel dan UMKM sementara pasar terbuka terus dan tidak proses pengawasan. Menurut saya ini logika yang tidak wajar dan merugikan UMKM diberlakukan oleh pemerintah kota,” ujarnya.

Kalau memang perwali tersebut tetap harus dijalankan, lanjutnya, maka pemerintah juga harus memikirkan sumber pendapatan maupun pekerja yang terdampak.

“Ini harus dijamin, kalau mereka memang ditutup, apa konpensasi yang dilahirkan oleh pemkot. Kalau seandainya mereka kolaps tidak bisa melanjutkan usahanya. apakah pemerintah kota bersedia membantu menyegarkan kembali perekonomian mereka dengan mengembangkan usaha mereka. Persoalan ini yang harus kita pikirkan bersama dampaknya mereka ini kalau tutup jam 10 malam,” tutupnya.

Diketahui, pemberlakukan jam malam di mana warga Kendari tak boleh lagi beraktifitas di atas pukul 22.00 sampai dengan pukul 04.00 WITa, tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Nomor 4431.1/992/2020. Aktivitas di pusat keramaian seperti mall, tempat hiburan malam, pasar modern, dan lapangan futsal juga dibatasi.

ODEK/NURSADAH

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *