Karyawan PT PLM, Sakit Akibat Terpapar Merkuri

Najamuddin (45) pengawas produksi PT PLM saat mendapat perawatan akibat terpapar Merkuri (FOTO : IST)

BeritaRakyat.id, Kendari -Salah satu karyawan PT Panca Logam Makmur (PLM) bernama, Najamuddin (45) diduga terpapar bahan berbahaya dan beracun(Merkuri) saat melakukan kegiatan produksi pertambangan emas di wilayah Kabupaten Bombana.

Alih-alih mendapatkan perhatian atau pun tanggung jawab dari pihak perusahaan. Malah karyawan yang bekerja sebagai pengawasan produksi di PT PLM itu, justru tidak mendapatkan upah kerja selama beberapa bulan.

“Saya Ini kasian sial sekali nasibku, saya sudah sakit akibat dari terpapar bahan berbahaya dan beracun (Merkuri) yang di buktikan dengan hasil Lab dari Prodia, yang saya dapat ketika menjadi pengawas produksi PT Panca Logam Makmur, tapi jangan kan biaya pengobatan dari Perusahaan. Gaji saya saja sudah 4 bulan tidak di berikan oleh perusahaan,” katanya kepada media ini, Senin (04/12/2023).

Padahal kata Najamuddin dirinya, selalu rutin mengirimkan surat keterangan hasil LAP dan juga surat keterangan sakit dari puskesmas kepada pihak perusahaan tempat ia kerja selama bertahun-tahun itu. Namun sama sekali tidak ada respon dari pihak PT PLM.

“Padahal saya rutin mengirimkan surat keterangan sakit dari Puskesmas kepada HRD PT Panca Logam Makmur. Tapi tidak ada tanggapan sama sekali,” ungkapnya

Akibat terpapar bahan Merkuri ini kata dia, dirinya sudah tidak beraktivitas seperti dulu lagi. Ia harus rutin mengecek kondisi kesehatan di Rumah Sakit atau Puskesmas

“Awal-awal saya rasa tahun 2021, sudah mulai batuk-batuk darah, saya rasa sudah parah saya pergi tes LAP di Prodia. Ternyata di dalam darah sudah ada itu, terpapar Merkuri,” jelasnya dia.

Sementara itu, Haslin Hatta Yahya selaku pihak yang selalu mendampingi keluarga Najamuddin dalam proses hukum, mengaku tindakan PT PLM terhadap karyawannya sangat tidak manusiawi.

Selama menderita sakit akibat terpapar Merkuri ini, kata Haslin tidak pernah ada itikad baiK sedikit pun dari pihak PT PLM.

“Miris sekali saya melihat perlakuan PT Panca Logam Makmur kepada Karyawan nya, sudah tidak ada tanggung jawab sama sekali, gajinya juga tidak dikasih, padahal jelas dia sakit karena terpapar Merkuri akibat tidak ada APD selama bekerja,” bebernya.

Haslin bilang, kejadian ini juga telah dilaporkan ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Provinsi Sulawesi Tenggara, namun anehnya tidak ada kabar baik yang dihasilkan hingga saat ini.

“Disnaker sudah turunkan tim dilapangan, hanya yang aneh tim Disnaker yang turun ke lapangan tidak membawa kabar baik bagi korban. Bahkan ketika saya mendampingi karyawan tersebut ke disnaker. Argumen yg di berikan Disnaker kepada kami seolah olah disnaker itu sdh menjadi bagian dari Humas perusahaan,” heranya.

Kondisi ini menurut Haslin, membuat pihak keluarga korban semakin bingung. Kemana lagi harus mengadukan nasib korban yang saat hanya bisa pasrah dan terbaring lemah di atas tempat tidur.

“Tidak sedikit pun memberikan angin segar kepada pelapor, padahal sudah ada hasil Lab bahwa korban tersebut terpapar merkuri dalam darahnya. Dan sudah ada juga hasil lab bahwa kadar merkuri pada limbah PT Panca Logam Makmur itu sdh diatas ambang batas yang di tetapkan Pemerintah,” tutupnya.

Sementara itu, hingga saat ini pihak PT PLM, melalui HRD Muh Akbar belum merespon panggilan maupun pesan singkat yang di kirim media ini melalui WhatsApp.

ODEK

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *