Dibolehkan Kembali Bekerja, Karyawan VDNI dan OSS Keluhkan Persyaratan Swab Test

Pabrik pemurnian Nikel milik PT VDNI dan PT OSS di Kecamatan Morosi, Konawe. (FOTO : INT)

BeritaRakyat.id,. Kendari – PTĀ  Virtue Dragon Nikel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainles Steel (OSS) mulai memanggil karyawan yang pernah di rumahkan, untuk kembali bekerja di pabrik pemurnian nikel di Kecamatan Morosi Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Namun demikian, pemanggilan karyawan yang dirumahkan saat Corona Virus Disease (Covid-19) mewabah sejak Maret 2020 lalu itu harus memenuhi protokol kesehatan, standar Covid-19. Syarat yang diberikan kepada karyawan yang akan kembali bekerja itu adalah harus membawa hasil rapid test dan hasil pemeriksaan swab dari rumah sakit.

Namun, rupanya persyaratan itu dikeluhkan para karyawan tersebut. Pasalnya biaya uji swab mencapai jutaan rupiah.

“Kami karyawan yang sudah kerja di PT OSS. Kemudian kami dirumahkan karena adanya wabah Corona beberapa waktu lalu. Saat ini kami sudah dipanggil kembali untuk kembali bekerja dan harus membawa hasil rapid test,” ujar salah seorang calon karyawan yang tidak disebutkan namanya kepada media ini di Kendari, Kamis (27/08/2020).

Dikatakan, setelah dipanggil dan menunjukkan hasil rapid test kepada HRD di perusahaan PT OSS, karyawan kembali disyaratkan harus membawa hasil swab agar dapat diterima kembali bekerja.

“Syarat ini memang untuk keselamatan bagi kami yang akan kembali bekerja. Hanya saja, mahalnya untuk mendapatkan hasil swab yang menurut kami terlalu besar. Terus hasil swab ini sudah dapat memastikan kami sudah diterima dan langsung bekerja,” ujarnya.

Sementara itu, Dewan Pakar DPP LAT Sultra Dr Kurniawan mengakui, adanya keluhan terkait syarat rapid test dan swab bagi calon karyawan tersebut.

“Saya juga sudah mendapat keluhan ini. Tetapi syarat ini memang wajib untuk dilaksanakan bagi seluruh karyawan yang akan bekerja di perusahaan, termasuk di VDNI dan OSS di Morosi. Hanya saja perusahaan agar menjamin karyawan yang telah memenuhi syarat dan hasil swabnya negatif untuk diterima bekerja. Atau perusahaan menunjuk Rumah Sakit yang biaya pemeriksaannya dapat dijangkau oleh calon pekerja tersebut,” ujarnya kepada media ini, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (27/08/2020).

Kurniawan mengaku, jika perusahaan menjamin bahwa karyawan yang telah memenuhi syarat tersebut bisa langsung bekerja dan digaji, bisa jadi itu tidak terlalu memberatkan dan akan berusaha dipenuhi.

“Memang ini berat bagi calon karyawan, jadi perusahaan juga harus memberikan keringanan,” tandasnya.

Sementara itu External Affairs Manager PT VDNI Indrayanto yang dihubungi media ini, mengaku tidak mengetahui persyaratan yang diajukan oleh pihak Human Recources Development (HRD) itu.

“Saya tidak tahu soal itu. Coba tanya saja langsung Wakil Bupati Konawe, karena mereka yang tahu soal perekrutan tenaga kerja lokal,” katanya singkat.

HERMAN/NURSADAH

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *