Darwin Ingin Lawan Kotak Kosong di Pilkada Mubar, Alkindi : Baiknya Pelajari Dulu Peta Lapangan

Alkindi Mahasiswa pasca sarjana asal Muna Barat (FOTO : IST)

BeritaRakyat.id,.Muna Mubar – Pernyataan salah satu Bakal Calon (Balon), Bupati Muna Barat (Mubar), La Ode Darwin di beberapa media online yang menyebut bahwa dirinya, berharap melawan kotak kosong dengan memborong semua Parpol yang memiliki kursi Di DPRD Mubar menjadi perbincangan dan perhatian masyarakat Mubar. Salah satunya Alkindi, Mahasiswa Mubar yang saat ini sedang menempuh pendidikan disalah satu kampus di Kota Jakarta.

Mahasiswa pasca sarjana ilmu politik ini mengatakan, upaya melawan kotak kosong dalam pelaksanaan Pilkada Mubar di bulan November mendatang harusnya tidak perlu terjadi.

“Para calon pemimpin seharusnya lebih mendekati masyarakat dengan ide, gagasan dan pikirannya sebagai pemegang suara daripada harus berobsesi menguasai mayoritas partai,” katanya kepada media ini, Minggu (17/05/2024).

Dalam sistem demokrasi lanjut dia, memang melawan kota kosong bukanlah sebuah pelanggaran, karena konstitusi telah menyediakan jalur bagi mereka yang mendapatkan posisi sebagai calon tunggal.

Hanya saja, jika hal tersebut di sampaikan dengan alasan untuk menghilangkan konflik horisontal di kalangan masyarakat Mubar, maka alasan atau argumentasi itu seperti mengejar fatamorgana di ufuk Timur.

“Dalam pandangan realis klasi Niccolò Machiavelli, dalam karyanya “Il Principe” (Sang Pangeran), mengakui bahwa politik melibatkan konflik dan penggunaan kekuasaan untuk mencapai tujuan. Machiavelli menekankan pragmatisme dan realisme dalam politik, di mana konflik dianggap sebagai sesuatu yang normal dan tak terelakkan,” ungkapnya.

Mengatasi konflik horizontal dalam pemilihan Kepala Daerah menurut alumni mahasiswa Ilmu politik UHO ini, bukan karna satu colon bupati itu melawan kotak kosong, tetapi memerlukan pendekatan yang holistik dan koordinasi antara berbagai pihak.

Seperti halnya penegakan hukum yang adil dan transparan, peningkatan pendidikan politik, peran aktif Pemerintah daerah, mediasi dan resolusi konflik, Pemantauan independen, dan juga sosialisasi dan kampanye damai.

“Pendekatan-pendekatan dengan cara yang kontruktif semacam ini setidaknya bisa meminimalisir konflik sosial dan politik di daerah Muna Barat, tapi itu tidak akan menghilangkan konflik yang akan terjadi di kalangan masyarakat sepanjang Pilkada di Mubar di gelar sekalipun melawan kotak kosong nantinya,” bebernya.

“Sekarang muncul sebuah pertanyaan apakah pendekatan Holistik dan kordinasi antar pihak seperti yang di sebutkan di atas itu bisa di lakukan? Sementara dugaan kecurangan dari pihak pemangku Kebijakan sering kali di pertontonkan di kalangan masyarakat,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Pengamat politik muda melihat bahwa itensi dari argumen yang di bangun oleh Balon Mubar ini, semacam argumen tampa analisis, tidak bergizi yang akan menimbulkan gelombang kritikan dari berbagai Kalangan.

Terlebih lagi, siklus politik di setiap Kabupaten yang ada di Bumi Anoa termaksud Mubar kata dia, nantinya akan seiring sejalan dengan kepentingan Gubernur yang akan mempengaruhi pola di setiap Daerah. Sehingga jika Ingin melawan kotak kosong maka pastikan di pertarungan Gubernur itu harus satu Pintu.

“Tentunya jika Si A di Kabupaten di usung oleh partai 1 maka pasti partai pengusung memiliki kepentingan untuk mendongkrak Suara Di pemilihan Gubernur, maka tentu partai 2 yang memiliki Kepentingan Gubernur akan mencari calon Si B di Daerah yang sama Untuk menjadi mesin pendongkrak seperti Si A karna perbedaan figur Gubernur di Provinsi,” tegasnya.

Belum lagi jika, melihat konfigurasi politik dalam pemilihan Gubernur Sultra bisa berpotensi melahirkan dua sampai tiga Balon Gubernur nantinya. Artinya kata dia, sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika partai yang memiliki suara di parlemen Mubar bisa tertuju kepada satu calon.

Di sisi lain dalam peristiwa sejarah Perhetalan Politik Bumi Anoa baru satu daerah yang melakukan pemilihan dengan melawan Kotak kosong yakni Pilkada Buton. Itupun Bupati terpilih harus merelakan jabatannya karna harus berhadapan dengan proses hukum sebelum di Lantik sebagai Bupati Defenitif.

“Maka pentingnya melihat sejarah perpolitikan masa lalu di Sulawesi Tenggara baik itu pemilihan Gubernur (Provinsi) ataupun Bupati (Daerah) guna menganalisis pola dan tren sejarah perpolitikan, karna sering menunjukkan pola dan tren politik yang sama dapat berulang,” urainya.

Dengan mempelajari pola-pola ini tambah dia, maka bisa membawa pada analisis yang membuat prediksi lebih akurat tentang bagaimana peristiwa politik makin berkembang di masa mendatang baik pada skala Gubernur maupun calon Bupati yang ada di Sultra.

“Sekalipun politik juga di kenal dengan seni kemungkinan, tetapi apa yang di katakan oleh salah satu balon bupati Muna Barat itu, tidak mungkin untuk di mungkinkan terjadi di Muna Barat,” tutupnya.

ODEK

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *