Bangun Smelter HPAL, PT CNI Dipercaya Bakal Serap Banyak Karyawan di Kolaka

Suasana RDP DPRD Kolaka bersama PT CNI dan pihak terkait. (FOTO: IST)

BeritaRakyat.id, Kolaka – Kegiatan PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) yang membangun smelter dengan menggunakan proses hydro metalurgi atau dikenal dengan smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) mendapat apresiasi dari  Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara. Pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel perusahaan  tambang yang beroperasi di Kolaka ini, dipercaya mampu menyerap banyak tenaga kerja dari warga setempat.

“Kita memberikan apresiasi pada PT Ceria atas pemaparannya dan kita optimis PT Ceria bisa berjalan dengan baik,” kata Anggota Komisi I DPRD Kolaka dr Hakim Nur Mampa, saat Rapat Dengar Pendapat (RDP), Rabu (21/10/2020), bersama pihak PT CNI.

Dikatakan, perekrutan tenaga kerja yang dilakukan PT CNI bekerjasama dengan pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kolaka juga sudah berjalan baik. Hanya saja perlu dibuat kriteria karyawan Ring 1 yang mesti memprioritaskan masyarakat setempat.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Kolaka Andi Sastra mengatakan, pihaknya selalu berkoordinasi dengan PT CNI yang selalu memberikan laporan terkait tenaga kerjanya.

“Begitu pun gaji karyawan sudah sesuai dengan UMR Kabupaten Kolaka,” kata Andi Sastra yang ikut hadir dalam RDP tersebut.

Adapun pemaparaan General Manager PT CNI Chandra B Sumarah dalam RDP itu menjelaskan, dalam merekrut tenaga kerja, pihaknya memprioritaskan masyarakat yang ada pada Ring 1. Per Oktober 2020, tenaga kerja dan kontraktor untuk Ring 1 berjumlah 712 orang atau 53,6 persen.

“Ring 2 berjumlah 81 orang atau 6,1 persen, ring 3 berjumlah 153 orang atau 11,5 persen, ring 4 berjumlah 266 orang atau 20 persen, serta ring 5 berjumlah 116 orang atau 8,7 persen,” papar Chandra.

Dalam kesempatan itu, Chandra  juga memaparkan dasar sumber daya dan cadangan mineral bijih yang tinggi dalam IUP PT CNI, sebagai tanggapan atas kekurangan nikel dunia dan pasar yang sedang berkembang untuk kendaraan listrik dalam hal ini penggunaan baterai secara umum.

“Kondisi pasar menyebabkan harga besi nikel domestik di bawah harga wajar untuk kadar bijih nikel yang dijual, sehingga mempengaruhi strategi penambangan dan cashflow dalam persiapan equitas perusahaan,” ungkap Chandra.

Saat ini juga, aku Chandra, terjadi kendala proses pengadaan barang dan jasa dari China yang harus tertunda akibat pandemi Covid-19. Begitu pun kendala perizinan karena terjadi perubahan kebijakan pusat.

Mengenai persoalan penyelesaian lahan, Advisor external PT CNI M Arfah Mustafa yang juga hadir dalam RDP itu mengungkapkan, saat ini pihaknya menyelesaikan 119 hektar ganti rugi lahan warga yang telah sesuai hak atas tanah.

“Yang lainnya tetap akan diselesaikan sesuai aturan perundang-undangan  pertanahan dan saat ini prosesnya terus berjalan,” tandasnya.

YUSRI/NURSADAH

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *